Webinar Universitas Pertahanan: Obat Modern Asli Indonesia untuk Ketahanan Kesehatan

Obat Herbal Terstandar (OHT) ataupun Fitofarmaka, yang kini disebut sebagai Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) berasal dari biodiversitas Indonesia, dapat berperan sebagai produk untuk ketahanan kesehatan nasional. Demikian diskusi yang mengemuka dalam webinar "Optimalisasi Biodiversitas Indonesia untuk Penanganan COVID-19" yang dsielenggarakan Fakultas Farmasi Militer Universitas Pertahanan RI. "Sekarang penamaan Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka kita sebut sebagai OMAI, Obat Modern Asli Indonesia, karena ini mempunyai bukti ilmiah. Bapak Presiden Jokowi sudah mengajak untuk mereformasi sistem kesehatan nasional dengan mengetengahkan berinovasi dan tentunya Bapak Menristek, Prof Bambang Brodjonegoro melakukan banyak sekali terobosan, salah satunya meneliti Obat Modern Asli Indonesia," papar Direktur Eksekutif Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS), Dr Raymond Tjandrawinata dalam webinar yang berlangsung pada Kamis (8/4/2021). Tak hanya diteliti, OMAI juga harus masuk dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui Formularium Nasional. Hal tersebut senada dengan arahan Menristek seperti disampaikan Dr Raymond. "Belum ada 1 obat herbal pun yang masuk formularium nasional, padahal Indonesia kaya akan tanaman obat. Ini PR kita bersama," imbuh Dr Raymond. Beliau kemudian memaparkan sederet OMAI yang terbukti memiliki khasiat sama dengan obat berbahan baku kimia. Di antaranya adalah Redacid yang memiliki khasiat sama dengan Omeprazole untuk mengatasi gangguan asam lambung, Inlacin dengan khasiat menurunkan gula darah, hingga HerbaPAIN yang dikembangkan dari Mahkota Dewa dan mampu membantu menghilangkan nyeri. "OMAI sangat digemari para dokter di Kamboja, Vietnam, Filipina. Saya melakukan webinar dengan para dokter di negara-negara tersebut," ujar dia. Rektor Universitas Pertahanan, Laksamana Madya TNI Dr. Amarulla Octavian, ST., M.Sc. dalam sambutan pembukaan juga menekankan pentingnya mengolah biodiversitas Indonesia untuk ketahanan kesehatan. Biodiversitas Indonesia bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku obat. "Kuliah Pakar kali ini akan mengangkat tema Optimalisasi Biodiversitas Indonesia untuk Penanganan COVID-19 dan untuk kesehatan khususnya, dan ketahanan kesehatan pada umumnya. Perlu kiranya kita mengingat kembali COVID-19 bukan satu-satunya yang kita hadapi, ada penyakit menular lain seperti TBC, Malaria, dan lainnya," ungkap Laksdya Amarulla. Hal senada juga disampaikan oleh Plh. Dekan Fakultas Farmasi Militer Universitas Pertahanan, Prof. Dr. apt. Yahdiana Harahap, M.S. Menurut beliau, kemandirian farmasi sangat penting bagi ketahanan nasional. Kemudian Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM RI, apt. Dra. Reri Indriani menegaskan dukungan pihaknya untuk pengembangan biodiversitas. Hadir pula sebagai pembicara yakni Manager Produksi PT Indofarma, apt. Drs. Eko Dodi Santoso, yang menyatakan pihaknya juga tengah mengembangkan obat dari biodiversitas. Hal menarik ketika Guru Besar Universiti Kebangsaan Malaysia, Prof. Dr. Ibrahim Jantan, yang memaparkan tanaman Pyllanthus amarus sebagai imunosupresan. Paparan itu kemudian ditanggapi oleh Dr Raymond bahwa di Indonesia, tanaman Pyllanthus niruri (meniran hijau) diolah menjadi imunomodulator yang telah 17 tahun teruji klinis (Fitofarmaka) yakni STIMUNO.