Universitas Airlangga: Pengembangan Obat Modern Asli Indonesia

Fakultas Farmasi Universitas Airlangga menggelar webinar bertajuk "Tantangan & Peluang bagi Apoteker dalam Pengembangan Obat Tradisional Indonesia untuk Immunomodulator". Pada webinar ini dibahas mengenai peran penting apoteker dalam mengembangkan Obat Modern Asli Indonesia (OMAI).


Molecular Pharmacologist Dexa Laboratories of Biomolecular Science (DLBS) PT Dexa Medica, Bapak Dr Raymond Tjandrawinata menjadi salah satu pembicara dalam webinar ini. Hadir pula Direktur RSUD Syaiful Anwar Malang, Bapak Dr dr Kohar Hari Santoso; Guru Besar Psikologi Klinis FK Unair, Bapak Prof Dr apt. Suprapto Maat; dan Dosen Fakultas Farmasi Unair, Ibu Dr apt Idha Kusumawati dalam webinar yang berlangsung pada Rabu, 9 September 2020.


Dr Raymond menyampaikan bahwa dalam pengembangan fitofarmaka tentunya dibutuhkan waktu dan upaya pencarian bahan baku yang terstandarisasi. Oleh karena itu PT Dexa Medica terus menggalakkan pengembangan Obat Herbal Terstandar (OHT) dan Fitofarmaka agar kualitas obat yang dihasilkan teruji secara pra-klinis maupun klinis.



"Yang belum kita dapatkan adalah penggunaan oleh pemerintah, (terhadap) OMAI ini. Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka ini seharusnya bisa digunakan di faskes-faskes di manapun di Indonesia," kata Dr Raymond.


Salah satu kendala penggunaan OMAI dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) adalah aturan yang menghalangi obat berbahan alam masuk dalam Formularium Nasional. Padahal, kata Dr Raymond, ketergantungan bahan baku obat impor bisa dikurangi jika pemerintah memasukkan OMAI dalam JKN.


"Kalau masuk JKN, harus Obat Herbal Terstandar atau Fitofarmaka dan industri harus melakukan forecasting, harus memperkirakan produknya setahun ke depan. Sehingga industri harus melakukan perencanaan dengan baik," ungkap Dr Raymond.


Dengan demikian adalah peran apoteker dalam melakukan perencanaan di industri farmasi. Perencanaan yang baik oleh apoteker akan menjamin ketersediaan bahan baku.


Senada dengan Dr Raymond, Prof Suprapto Maat menilai bahwa pengembangan Fitofarmaka memerlukan biaya yang besar. Permasalahannya kemudian adalah, hasil riset tersebut tidak sebanding dengan penjualan yang didapatkan kemudian.


"Harus ada dukungan klinisi. Suara klinisi sangat menentukan sekali. Sama seperti yang kita kenal, STIMUNO, itu didukung klinisi terutama uji kliniknya," ungkap Prof Suprapto.


Prof Suprapto merupakan peraih Habibie Award yang mengembangkan meniran menjadi imunomodulator. Penelitian itu kemudian memasuki uji klinis fase 3 yang bekerja sama dengan PT Dexa Medica sehingga menghasilkan produk STIMUNO.


"Sekarang ini, apalagi kalau memperhatikan tayangan televisi, hampir semua produk herbal (diklaim) meningkatkan daya tahan tubuh. Ada jahe meningkatkan daya tahan tubuh, susu, ini bagaimana apakah ini tidak jadi perhatian? Seharusnya sesuatu yang bisa meningkatkan daya tahan tubuh harus diuji terlebih dahulu," ujar Prof Suprapto.


Menurut Prof Suprapto, STIMUNO telah teruji klinis pada pasien TBC. Prof Suprapto juga menegaskan tak ada kaitan antara konsumsi imunomodulator dengan penyakit autoimun. Sehingga konsumsi imunomodulator tetap aman.


Dr Raymond kemudian menambahkan, adalah peran apoteker sebagai garda terdepan untuk melakukan edukasi kepada masyarakat. Peran apoteker pula untuk memastikan ketersediaan imunomodulator di seluruh apotek untuk menjaga daya tahan tubuh dalam upaya pencegahan penyakit.


Sementara itu dr Kohar yang juga merupakan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur periode 2015-2019 menjelaskan, di daerahnya telah disusun regulasi untuk obat tradisional. Regulasi tersebut sudah dalam tahap harmonisasi untuk diajukan ke pemerintah pusat.


"Tujuannya untuk menjamin khasiat manfaat produk obat tradisional dan juga menjaga warisan budaya," kata dr Kohar.


Pengembangan obat berbahan alam tentunya harus dijaga kualitas bahan bakunya. Hal ini ditekankan oleh Dr Idha, bahwa apoteker harus mampu menjaga kualitas bahan baku untuk kemudian diolah menjadi obat.


"Kunci utama mendapatkan produk berkualitas adalah di dalamnya, penjamin mutu satu-satunya adalah apoteker. Ini adalah peluang apoteker untuk menjadi penyedia bahan baku yang berkualitas," tutur Dr Idha.

Head Office Titan Center 3rd Floor, Jalan Boulevard Bintaro Block B7/B1 No. 05 , Bintaro Jaya Sektor 7 Tangerang 15224, Indonesia

Tel. (+62-21) 7454 111  (Operating Hours : 08.00 - 17.00 WIB) |  Fax. (+62-21) 7454 111

  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram

       © 2020 Dexa Medica