Pimpinan Dexa Group Tegaskan Pentingnya Riset OMAI

Hasil riset puluhan ribu tanaman herbal di Indonesia harus diupayakan untuk dihilirisasi dan digunakan sebagai Obat Modern Asli Indonesia (OMAI). Harapannya, pemanfaatan OMAI terus didorong untuk mewujudkan kemandirian Indonesia di sektor farmasi.


Hal tersebut mengemuka pada diskusi di acara Webinar bertajuk "Hilirisasi Tanaman Obat Indonesia di Masa Tatanan Hidup Baru". Acara ini diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Program Doktor Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (ILUNI PDIB FKUI) bersama dengan Perhimpunan Doktor Herbal Medik Indonesia, yang bekerjasama dengan PT Dexa Medica, pada Senin, 6 Juli 2020, di Youtube Channel Center of e-Learning IMERI-FKUI.

Pimpinan Dexa Group Bapak Ferry Soetikno hadir memberikan closing statement dalam acara yang juga dihadiri oleh para keynote speaker yakni Ketua Umum Perkumpulan Profesi Kesehatan Tradisional Komplementer Indonesia (PPKESTRAKI), Bapak Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto, DFM, SH, M.Si, Sp.F(K), Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional Kementerian Kesehatan RI, Ibu Dr. dr. Ina Rosalina, Sp.A(K), M.Kes, MHKes dan Guru Besar Departemen Farmakologi FKUI-RSCM yang juga Tim Ahli Produk Herbal Badan POM, Ibu Prof. Dr. dr. Purwantyastuti Ascobat, M.Sc., Sp.F(K). Selain para keynote speaker tersebut, juga hadir Plt Ketua Prodi Doktoral Ilmu Biomedik FKUI, Ibu Prof. Dr. rer. nat. Dra. Asmarinah, M.Si dan Ketua PDHMI Bapak dr. Hardhi Pranata, yang dipandu oleh dr. Sonia Wibisono.


Dalam kesempatan tersebut, Bapak Ferry Soetikno mengemukakan bahwa diskusi yang berlangsung merupakan misi bersama terhadap puluhan ribu tanaman herbal di Indonesia agar hasil risetnya bisa dihilirisasi.


"Uji klinik itu mahal dan sulit. Dan ternyata kita dari Dexa Medica sudah menghasilkan 5 fitofarmaka dan hasil riset Bioactive Fraction kita sangat efektif. Kita bisa melihat Inlacin 100mg per kapsul, mengandung Bioactive Fraction dari kulit kayu manis dan bungur. Kita juga melihat bagaimana pentingnya setiap yang kita miliki ini sebagai Obat Modern Asli Indonesia," jelas Bapak Ferry.


Bapak Ferry melanjutkan bahwa yang dapat kita lakukan adalah tidak hanya komplementari, tapi juga substitusi. "Kita sangat bergantung pada obat impor, sangat bersyukur apabila kita menghasilkan obat dari alam Indonsia sendiri. Dalam keadaan Covid banyak urgensi yang timbul. Apa yang sudah kita miliki itu yang kita gunakan dahulu OMAI, jadi pegangan kita, jaminan kita untuk masuk JKN," tegas Bapak Ferry.


Satgas Fitofarmaka akan fokus pada 15 therapeutic area. Hal ini penting untuk dilakukan sosialisasi dan pembelajaran bersama-sama. Harapan kemandirian bangsa dapat tercapai dalam kondisi yang urgent seperti saat ini.


Senada dengan Bapak Ferry, Prof. Agus Purwadianto memantik diskusi dengan memaparkan permasalahan pemanfaatan tanaman herbal menjadi obat di Indonesia. Menurut Prof. Agus, obat yang dibuat dari bahan herbal seharusnya bisa masuk program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).


"Kebijakan hilirisasi jamu sebagai model kesehatan tradisional memerlukan telaah regulasi dan sejarah implementasinya di bidang pelayanan kesehatan," kata Prof. Agus.


Selanjutnya Dr. dr. Ina Rosalina menegaskan, OMAI bisa diresepkan oleh dokter. Menurut dr Ina, jamu maupun OMAI aman untuk dikonsumsi.


"Tenaga kesehatan sebenarnya bisa memakai OMAI, istilah sekarang muncul Obat Modern Asli Indonesia, ada istilah yang masuk OMAI yaitu Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka. Jadi boleh nggak dipakai tenaga kesehatan dan masyarakat? Sangat boleh," ungkap dr. Ina.


Pada sesi tanya-jawab, dr Ina juga menyatakan tidak masalah apabila mengonsumsi obat konvensional yang diresepkan dokter dengan obat berbahan herbal. Menurut dr Ina, obat berbahan herbal bisa melengkapi khasiat dari obat konvensional.


"Misalnya yang kita kenal sekarang obat diabetes itu Inlacin, boleh nggak (dokter meresepkan)? Boleh," kata dr. Ina.


Kemudian Prof Purwantyastuti memaparkan, saat ini ada lebih dari 11.000 jamu yang terdaftar di Badan POM. Sedangkan untuk Obat Herbal Terstandar (OHT) baru ada 62 produk dan Fitofarmaka sebanyak 25 produk. Badan POM berupaya untuk mempercepat proses uji pra-klinik dan juga uji klinik dari obat dari bahan alam.

Head Office Titan Center 3rd Floor, Jalan Boulevard Bintaro Block B7/B1 No. 05 , Bintaro Jaya Sektor 7 Tangerang 15224, Indonesia

Tel. (+62-21) 7454 111  (Operating Hours : 08.00 - 17.00 WIB) |  Fax. (+62-21) 7454 111

  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram

       © 2020 Dexa Medica