Head Office Titan Center 3rd Floor, Jalan Boulevard Bintaro Block B7/B1 No. 05 , Bintaro Jaya Sektor 7 Tangerang 15224, Indonesia

Tel. (+62-21) 7454 111  |  Fax. (+62-21) 7454 111

© 2020 Dexa Medica

Dengan OMAI Pemerintah Dorong Percepatan Substitusi Produk dan Bahan Baku Impor Industri Farmasi

Pemerintah melakukan sejumlah upaya untuk menekan pelemahan pertumbuhan ekonomi terutama dengan adanya perkembangan virus corona (Covid-19) melalui percepatan industri substitusi produk impor sesuai dengan INPRES 6 tahun 2016. Salah satu industri yang memiliki ketergantungan impor yang tinggi adalah bahan baku farmasi. Melalui langkah percepatan industri ini, pemerintah memprioritaskan pengembangan obat atau produk biologi berbahan baku makhluk hidup melalui Obat Modern Asli Indonesia (OMAI).


Industri farmasi Nasional mencatat, sekitar 95 persen kebutuhan bahan baku farmasi di Indonesia berasal dari impor. Nilai impor bahan baku obat setiap tahun mencapai 2,5 miliar US Dollar hingga 2,7 US Dollar. Di mana impor bahan baku terbesar berasal dari China yang mencapai 60 persen, diikuti India dan negara lainnya.



Menteri Perindustrian RI Bapak Agus Gumiwang Kartasasmita pada saat kunjungan kerja meninjau Pusat Riset Obat Modern Asli Indonesia di Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences, Rabu, 11 Maret 2020 mengemukakan, pemerintah harus mendorong percepatan substitusi produk impor farmasi dengan bahan baku lokal untuk menekan angka impor, meningkatkan devisa negara, dan menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi dalam negeri.


“Industri farmasi merupakan industri strategis yang berdampak pada kebutuhan masyarakat banyak. Apalagi saat ini terjadi wabah Corona, di mana upaya kesehatan masyarakat meningkat tajam, sehingga kebutuhan obat-obatan juga naik. Terlebih lagi industri farmasi menjadi salah satu industri yang terdampak dengan adanya wabah ini, mengingat 60 persen kebutuhan bahan baku berasal dari China,” kata Menteri Perindustrian RI.


Menperin kembali menegaskan bahwa industri farmasi merupakan salah satu industri nonmigas yang menjadi target pertumbuhan industri nasional. “Karena itu kami sangat mengapresiasi lagkah Dexa Group yang sudah siap hingga ke hilirisasi dengan Obat Modern Asli Indonesia, ini jelas mempunyai kandungan TKDN 100%, dan ini bisa dimaksimalkan dengan digunakannya OMAI di JKN, selain kita mendapatkan substitusi produk impor farmasi, kami juga akan mendorong ekspornya. Hal ini agar terjadi multiplier efek yang semakin mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Menperin.


Terhadap substitusi bahan baku impor farmasi, Dexa Group sebagai perusahaan Nasional telah mengupayakan kemandirian bahan baku farmasi melalui OMAI sejak tahun 2005. OMAI merupakan obat-obatan yang bahan bakunya berasal dari alam Indonesia, sehingga mudah didapatkan dan tidak tergantung dengan impor.


Pimpinan Dexa Group Bapak Ferry Soetikno mengatakan, dalam ranah industri, ketergantungan industri farmasi Nasional terhadap bahan baku impor, salah satunya dapat ditekan apabila pemerintah segera merealisasikan aturan mengenai tingkat kandungan dalam negeri atau TKDN. “Regulasi TKDN ini sejalan dengan Inpres 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan,” kata Bapak Ferry.



Selain itu, lanjut Bapak Ferry, dorongan pemerintah terhadap penggunaan produk hilirisasi hasil riset dalam negeri seperti OMAI ke dalam fasilitas kesehatan Nasional juga perlu dipercepat untuk memberikan kepastian pasar bagi industri. “Industri perlu kepastian pasar untuk meningkatkan produksi dan mengembangkan produk obat lainnya yang bermanfaat bagi kesehatan masyarakat,” jelas Bapak Ferry.


Executive Director Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) Dr. Raymond Tjandrawinata mengemukakan, Dexa Group melakukan kegiatan riset di tingkat hulu dengan mengembangkan sediaan farmasi dan memproduksi Active Pharmaceutical Ingredients (API) yang berasal dari makhluk hidup. Di tingkat hilir, inovasi pengembangan dari DLBS ini menghasilkan 4 produk Fitofarmaka di Indonesia dan sejumlah produk obat herbal terstandar .



Lebih lanjut Dr Raymond mengungkapkan, industri memerlukan stimulus dari pemerintah untuk mendorong pengembangan produksi bahan baku dalam negeri baik di tingkat hulu maupun hilirnya. “Industri farmasi harus mendapat dukungan untuk pengembangan bahan baku dalam negeri sebagai produk substitusi impor. Ini karena obat yang telah kami temukan, teliti, dan kami uji memiliki efikasi yang setara dengan obat-obatan berbahan baku kimia. Selain itu multiplier ekonomi tidak akan berjalan cepat, apalagi kami memberdayakan para petani di berbagai daerah,” jelas Dr. Raymond.


Dr. Raymond mencontohkan salah satu produk OMAI Dexa Group adalah Inlacin. Inlacin merupakan obat diabetes Fitofarmaka berbahan baku bungur dan kayu manis yang diperoleh dari petani di daerah Gunung Kerinci di Jambi. “Produk ini telah teruji klinis dan memiliki efikasi yang sama dengan obat diabetes berbahan baku kimia seperti Metformin. Produk ini juga telah diekspor ke Kamboja dan Filipina,” katanya.


Lebih lanjut menurut Dr. Raymond, selain Inlacin, produk Fitofarmaka lainnya adalah Redacid berbahan baku kayu manis yang bermanfaat untuk mengatasi gangguan lambung, Disolf berbahan baku cacing tanah yang bermanfaat untuk memperlancar peredaran darah, Stimuno yang merupakan produk imunomodulator atau peningkat imun berbahan baku meniran.


Produk OMAI lainnya di antaranya rangkaian Herba Family seperti HerbaKOF untuk obat batuk, HerbaCOLD untuk Flu, HerbaPAIN untuk sakit kepala dan nyeri otot, dan HerbaVOMITZ untuk gangguan lambung.


**************************************************************************


Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Corporate Communications Dexa Group di E-Mail: corporate.communications@dexagroup.com