Ramipril

RAMIPRIL Kaplet

 

KOMPOSISI:
RAMIPRIL 2,5
Tiap kaplet mengandung:
Ramipril 2,5 mg

 

RAMIPRIL 5
Tiap kaplet mengandung:
Ramipril 5 mg

Farmakologi:
Farmakodinamik

Ramipril merupakan penghambat angiotensin converting enzyme (ACE) generasi kedua. Metabolit aktifnya, ramiprilat, berikatan secara kompetitif dengan ACE yang pada awalnya membentuk suatu kompleks enzim-inhibitor yang kemudian mengalami isomerisasi menghasilkan penghambatan yang menyeluruh.

Mekanisme aksi ACE adalah mengatalisis konversi angiotensin I menjadi senyawa vasokonstriksi, angiotensin II. Angiotensin II menstimulasi pelepasan aldosteron dari korteks adrenal, dan juga menyebabkan perubahan trophic pada jantung dan pembuluh darah.

Ramipril menghambat pembentukan angiotensin II sehingga menyebabkan:

  • Penurunan resistensi vaskular.

  • Penurunan retensi natrium dan air.

  • Penurunan efek trophic dari angiotensin II pada jantung dan pembuluh darah.

ACE juga bertanggung jawab terhadap degradasi kinin, dan dengan adanya penghambatan ACE, konsentrasi bradikinin meningkat. Pengurangan angiotensin II dan penghambatan degradasi bradikinin menyebabkan vasodilatasi. Peningkatan aktivitas bradikinin berperan dalam efek cardioprotective dan endothelioprotective. Adanya penghambatan oleh ACE juga mengurangi iskemia dan pengurangan luas infark.

Farmakokinetik
Ramipril diabsorbsi lebih dari 55% pada dosis oral dan bioavailabilitasnya tidak dipengaruhi oleh makanan.

Setelah diabsorbsi ramipril mengalami deesterifikasi menjadi metabolit aktif, yaitu ramiprilat.. Konsentrasi plasma puncak dari ramipril dan ramiprilat masing-masing dicapai dalam waktu sekitar 1 dan 3 jam.

Ramipril, ramiprilat dan metabolitnya terutama dieliminasi melalui ginjal. Kira-kira 60% dosis oral tunggal ramipril ditemukan di urine, 40% ditemukan di feses termasuk ekskresi melalui empedu.

Konsentrasi plasma ramiprilat meningkat pada pasien usia lanjut dan pasien gagal ginjal atau jantung, sementara ramipril terpotensiasi pada pasien dengan gangguan hati. Dengan demikian, dosis awal yang rendah dan/atau pengurangan dosis ramipril diperlukan pada pasien-pasien di atas.

Indikasi:
1. Hipertensi, dapat digunakan tunggal atau dikombinasikan dengan diuretik tipe tiazid.
2. Gagal jantung kongestif pada beberapa hari setelah menderita infark miokardia akut.
3. Menurunkan risiko terjadinya infark miokardia, stroke, cardiovascular death dan kebutuhan untuk prosedur revaskularisasi pada pasien dengan risiko tinggi penyakit kardiovaskular.
4. Nefropati glomerulus nondiabetik (bersihan kreatinin 20-70 ml.menit) dan proteinuria >3g/24 jam.
5. Nefropati insipiens pada pasien dengan diabetes tipe 2 normotensif.

Kontraindikasi:
- Hipersensitif terhadap obat ini.
- Pasien dengan riwayat angioedema terkait dengan pengobatan sebelumnya dengan menggunakan penghambat ACE.

Dosis dan cara pemberian:
Hipertensi
Dosis awal tanpa pemakaian diuretik: 2,5 mg, sekali sehari. Dosis disesuaikan dengan respon tekanan darah. Dosis pemeliharaan pada orang dewasa: 2,5-20 mg per hari, 1 atau 2 kali sehari. Jika respon tekanan darah berkurang dengan pemberian sekali sehari pada akhir interval pemberian obat, dosis ditingkatkan atau pemberian obat dibagi menjadi 2 kali sehari. Bila tekanan darah tidak dapat terkontrol hanya dengan ramipril, dapat ditambahkan diuretik.

Gagal jantung setelah infark miokardia
Pada pasien dewasa setelah infark miokardia yang secara klinis menunjukkan gagal jantung kongestif, terapi ramipril dimulai 2 hari setelah infark miokardia. Dosis awal: 2,5 mg, 2 kali sehari, jika terjadi hipotensi dosis dikurangi menjadi 1,25 mg, 2 kali sehari.

Dosis ditingkatkan hingga 5 mg, 2 kali sehari.Setelah pemberian dosis awal ramipril, pasien harus diawasi selama paling sedikit 2 jam, sampai tekanan darah telah stabil selama paling sedikit 1 jam berikutnya. Jika memungkinkan, dosis diuretik yang digunakan bersamaan harus dikurangi untuk memperkecil kemungkinan terjadinya hipotensi. Hipotensi setelah pemberian dosis awal tidak menghalangi penyesuaian dosis, setelah hipotensi dapat diatasi.

Nefropati glomerulus
Dosis awal yang direkomendasikan adalah 1,25 mg satu kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan tergantung respon tekanan darah dan toleransi pasien, dianjurkan untuk meningkatkan dosis menjadi dua kali lipat dalam interval waktu 2-3 minggu, maksimum 10 mg perhari. Fungsi ginjal harus diperhitungkan.

Dosis pada pasien gangguan ginjal
Pasien dengan bersihan kreatinin <40 ml/menit/1,73 m2 (serum kreatinin >2,5 mg/dl), dosis diberikan 25% dari dosis normal.

Pasien hipertensi dengan gangguan ginjal
Dosis awal 1,25 mg, sekali sehari. Kemudian dosis ditingkatkan tergantung toleransi individual dan respon tekanan darah hingga dosis maksimum 5 mg per hari.

Pasien gagal jantung dengan gangguan ginjal
Dosis awal 1,25 mg, sekali sehari. Dosis dapat ditingkatkan menjadi 1,25 mg, 2 kali sehari hingga mencapai dosis maksimum 2,5 mg, 2 kali sehari tergantung pada respon klinis dan toleransi pasien.

Peringatan dan perhatian:

  • Pasien dengan riwayat angioedema yang tidak berkaitan dengan penggunaan penghambat ACE memungkinkan terjadinya peningkatan risiko angioedema saat menerima penghambat ACE.

  • Reaksi anafilaktoid dilaporkan terjadi pada pasien dialisis dengan membran high-flux dan pengobatan bersamaan dengan penghambat ACE.

  • Ramipril dapat menyebabkan hipotensi simtomatik, setelah dosis awal atau pada peningkatan dosis.

  • Penghambat ACE dapat menyebabkan sindrom yang diawali dengan cholestatic jaundice dan fulminant hepatic necrosis dan kadang-kadang kematian.

  • Penghambat ACE lain dapat menyebabkan agranulositosis dan depresi sumsum tulang, lebih sering terjadi pada pasien dengan penyakit vaskular kolagen seperti lupus eritematosus sistemik atau skleroderma dan pasien dengan gangguan ginjal.

  • Penghambat ACE dapat menyebabkan morbiditas dan kematian pada fetal dan neonatal bila diberikan pada wanita hamil, jika diketahui hamil maka penggunaan penghambat ACE segera dihentikan.

  • Pasien gagal jantung kongestif berat dengan fungsi ginjal yang tergantung pada aktivitas sistem renin-angiotensin-aldosteron, pengobatan dengan penghambat ACE, termasuk ramipril dapat menyebabkan oliguria dan/atau azotemia yang progresif dan (jarang terjadi) gagal ginjal akut dan/atau kematian.

  • Hiperkalemia (serum K >5,7 mEq/l) terjadi kira-kira 1% pada pasien hipertensi yang menggunakan ramipril.

  • Pernah dilaporkan penghambat ACE dapat menyebabkan batuk tidak produktif, batuk akan hilang bila pengobatan dengan ramipril dihentikan.

  • Pasien dengan kerusakan fungsi hati dapat meningkatkan kadar ramipril dalam plasma.

  • Bila obat ini harus diberikan pada wanita sedang menyusui, maka pemberian ASI harus dihentikan.

  • Keamanan dan efektivitas penggunaan pada anak-anak belum diketahui dengan pasti.

 

Efek samping:

  • Seluruh tubuh: reaksi anafilaktoid.

  • Kardiovaskular: gejala hipotensi, sinkop, angina pektoris, aritmia, nyeri dada, palpitasi, infark miokardia, cerebrovascular accident.

  • Hematologi: pantositopenia, anemia hemolitik, dan trombositopenia.

  • Ginjal: peningkatan nitrogen urea dalam darah dan kreatinin serum terutama jika ramipril diberikan bersama dengan diuretik.

  • Edema angioneurosis.

  • Batuk: batuk yang gatal, kering, menetap dan nonproduktif dilaporkan terjadi dengan penggunaan penghambat ACE. Batuk akan hilang segera setelah menghentikan pengobatan.

  • Gastrointestinal: pankreatitis, sakit perut, anoreksia, konstipasi, diare, mulut kering, dispepsi, disfagia, gastroenteritis, hepatitis, mual, peningkatan air liur, gangguan indera pengecap, dan muntah.

  • Dermatologi: reaksi hipersensitivitas (seperti urtikaria, pruritus, atau ruam dengan/tanpa demam), eritema, pemfigus, fotosensitivitas dan purpura.

  • Neurologi dan psikiatri: ansietas, amnesia, konvulsi, depresi, gangguan pendengaran, insomnia, gugup, neuralgia, neuropati, parestesia, somnolence, tinitus, tremor, vertigo dan gangguan penglihatan.

  • Lain-lain: kompleks gejala yang pernah dilaporkan, meliputi: antinuclear antibodies (ANA) positif, peningkatan kecepatan sedimentasi eritrosit, artritis/artralgia, mialgia, demam, vaskulitis, eosinofilia, fotosensitivitas, ruam dan manifestasi dermatologi lainnya. Terjadinya eosinophilic pneumonitis juga pernah dilaporkan.

Interaksi obat:

  • Penggunaan ramipril bersamaan dengan obat-obat golongan antiinflamasi nonsteroid (AINS) dapat menurunkan fungsi renal dan meningkatkan konsentrasi kalium serum.

  • Pemberian diuretik bersamaan dengan ramipril dapat menyebabkan penurunan tekanan darah yang drastis. Efek hipotensi diminimalkan dengan penghentian diuretik atau meningkatkan asupan garam pada awal pengobatan. Jika tidak memungkinkan dosis awal harus dikurangi.

  • Ramipril dapat menurunkan kehilangan kalium yang disebabkan oleh diuretik tiazid.

  • Adanya peningkatan kadar serum litium dan gejala toksik litium pernah dilaporkan pada pasien yang menerima penghambat ACE selama terapi dengan litium.

 

Overdosis:
Overdosis dapat menyebabkan vasodilatasi perifer yang berlebihan (ditandai oleh hipotensi, syok), bradikardia, perubahan elektrolit, dan gangguan ginjal.
 

Kemasan dan nomor registrasi:

RAMIPRIL 2,5. Kotak, 10 strip @ 10 kaplet, GKL0305033604B1

RAMIPRIL 5. Kotak, 10 strip @ 10 kaplet, GKL0305033604C1

Head Office Titan Center 3rd Floor, Jalan Boulevard Bintaro Block B7/B1 No. 05 , Bintaro Jaya Sektor 7 Tangerang 15224, Indonesia

Tel. (+62-21) 7454 111  |  Fax. (+62-21) 7454 111

© 2020 Dexa Medica